Al-Fatihah Dalam Shalat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadzyangdirahmati ALLAH, langsung saja pertanyaan dari saya.

Kapan saat yang tepat dan benar untuk membaca Surat Al-Fatihah pada saat sholat? Karena, katanya kalau kita mendengar bacaan Al-Qur’an kita harus mendengarkan dengan seksama.

Jadi Apakah kita harus mendengarkan dengan seksama dan tidak membaca Al-Fatihah dan surat pendek dalam hati saat imam membaca Al-Fatihah dan surat pendek?

Bahkan, katanya di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat tentang hal tersebut.

Mohon penjelasan dari Ustadz.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum warahmatullahhi wabarakatuh,

Jumhur ulama (mayoritas) menyebutkan bahwa membaca surat Al-Fatihah adalah rukun shalat, di mana shalat seseorang tidak syah tanpa membacanya. Terutama ketika shalat sendirian.

Hal itu dilandasi dengan dalil kuat dari hadits nabawi:

“Tidak syah shalat kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah“(HR Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Namun bagaimana kedudukan membaca surat Al-FAtihah ini, bagi seorang makmum yang berdiri di belakang imam. Apakah tetap wajib dibaca? Ataukah dia diam saja, karena bacaan imam sudah cukup mengganti bacaan baginya? Ataukah kombinasi antara keduanya?

Kami akan cuplikkan sedikit berbedaan beberapa mazhab besar tentang masalah ini.

a. Mazhab As-Syafi`i

Mazhab As-syafi`iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah sendiri meski dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaan imamnya).

Tidak cukup hanya mendengarkan bacaan imam saja. Kerena itu mereka menyebutkan bahwa ketika imam membaca surat Al-Fatihah, makmum harus mendengarkannya, namun begitu selesai mengucapkan, masing-masing makmum membaca sendiri-sendiri surat Al-Fatihah secara sirr (tidak terdengar).

Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat Al-Fatihah gugur dalam kasus seorang makmum yang tertinggal dan mendapati imam sedang ruku`. Maka saat itu yang bersangkutan ikut ruku` bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat. Rujuk kitab Al-Majmu, karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullah jilid 3 halaman 344 s/d 350.

b. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa membaca Al-Fatihah buat seorang makmum hukumnya mandub (sunnah), bila dilakukan pada shalat siriyyah (yangdirendahkan bacaaannya).

Namun hukumnya makruh kalau dilakukan pada shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaaannya).

c. MazhabAl-Hanabilah

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang makmum dalam shalat jamaah yang jahriyah (yang bacaan imamnya keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan imam. Dasarnya adalah firman Allah SWT:

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat .(QS. Al-A’raf: 204)

Selain itu juga ada dalil yang menegaskan bahwabacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum.

Siapa yang shalat dengan imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.

c. Mazhab Al-Hanafiyah

Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa Al-Fatihah itu bukan rukun shalat, cukup membaca ayat Al-Quran saja pun sudah boleh. Sebab yang dimaksud dengan `rukun` menurut pandangan mazhab ini adalah semua hal yang wajib dikerjakan baik oleh imam maupun makmum, juga wajib dikerjakan dalam shalat wajib maupun shalat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s