Kisah Haru Bung Karno

Pejuang Yang Disia-Siakan

Jangan pernah melupakan sejarah. Salah satu quotes terkenal yang disingkat dengan ‘jas merah’ ini memiliki arti yang dalam. Apa yang ada pada hari ini adalah buah perjuangan di masa lalu. Kemerdekaan Indonesia dan kebebasan yang sekarang bisa dinikmati adalah hasil dari jerih payah banyak orang dari ratusan tahun yang lalu. Orang-orang yang sudah mendedikasikan hidup dan waktunya untuk kemerdekaan Indonesia sudah selayaknya mendapat gelar pahlawan dan hidupnya dimuliakan karena tanpa mereka tidak akan ada Indonesia yang merdeka. Tapi faktanya, banyak pejuang kemerdekaan yang terabaikan hidupnya, termasuk sang proklamator Indonesia.

Soekarno atau yang biasa disebut dengan Bung Karno adalah salah satu tokoh kunci dan orang yang berperan sangat besar dalam kemerdekaan Indonesia. Bung Karno yang mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dan menjadi presiden pertama di republik ini menderita baik fisik ataupun batin pada sisa hidupnya. Soekarno dituduh komunis dan akhirnya ditangkap dan dijadikan tahanan. Soekarno yang dulu berada di garis depan mempertahankan kedaulatan, harus menderita hingga akhirnya meninggal dunia.

Soekarno menjalani tahanan rumah dan selalu dijaga ketat oleh tentara. Pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto memperlakukan proklamator RI ini sebagai pesakitan. Soekarno tidak boleh bepergian kemanapun, tidak boleh tinggal dengan keluarganya bahkan tidak diberi pengobatan yang layak ketika sakit. Soekarno menjadi miskin dan keluarganya ikut merasakan kesengsaraan karena sang kepala keluarga ditahan oleh negara.

Keluarga Soekarno bersama Fatmawati
Ketika salah satu putrinya hendak menikah, Soekarno yang sama sekali tidak memiliki simpanan bahkan harus meminta salah satu istrinya yaitu Yurike untuk mencari pinjaman uang. Dengan suara lemah dan menyimpan kesedihan tak terkira, Soekarno berkata kepada Yurike “Mas tak ingin diberi stempel sebagai bapak yang gagal. Yang jadi persoalan utama, Mas tidak punya uang. Hidupku selama ini sama sekali untuk bangsa dan negara, sama sekali untuk kepentingan nasional,” Yurike menangis melihat keadaan suaminya yang dulu mempertaruhkan segalanya untuk negara dan kini malah disengsarakan oleh negara yang dibelanya.

Tidak hanya sekali itu saja Soekarno tidak berdaya dan harus berada pada posisi yang menyakitkan ketika putrinya hendak menikah. Rachmawati Soekarnoputri menikah dengan Martomo Pariatman Marzuki. Soekarno dengan penjagaan ketat tentara Orde Baru datang ke pernikahan itu. Fatmawati, istri Soekarno menyambut suami yang lama tidak ditemuinya. Fatmawati pun sedih melihat kondisi Soekarno yang kurus dan lemah. Fatmawati dilarang mendekati suaminya dan perlakuan pengawal Soekarno sungguh kejam dan tidak berperasaan. Beberapa tahun kemudian ketika putrinya yang lain yaitu Sukmawati menikah, kondisi Soekarno sudah jauh menurun dan semakin melemah.

Soekarno mendatangi pernikahan putrinya dengan tertatih dan harus dipapah. Soekarno yang ingin tinggal lebih lama dengan keluarganya harus rela berpisah karena pengawalnya sudah menarik dan membawanya pergi. Tidak lama kemudian, Soekarno pergi untuk selamanya karena sakit yang dideritanya dan tidak mendapat pengobatan yang selayaknya.

Mungkin banyak yang belum mengetahui tentang kisah ini dan menangis terharu akan nasib bapak proklamator yang namanya begitu harum dan diingat banyak orang. Soekarno yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, namun kenyataannya dirinya malah ‘terjajah’ oleh pemerintah dari negara yang dia perjuangkan mati-matian. Soekarno seperti sebuah ironi, inilah kisah sang pemimpin besar revolusi. Dicampakkan bangsanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s